Selamat Hari Kartini

Nama Kartini terus hidup, meski waktu sudah bergerak hingga ratusan tahun lamanya sejak ia tiada. Pramoedya Ananta Toer pernah menulis begini di salah satu trilogi Rumah Kaca (1988)nya,

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” 

Begitulah, mengapa Kartini terus hidup. 

Karena menulis, api Kartini tidak pernah padam. Kartini adalah pejuang dengan pena. Ia mendobrak apa-apa yang kaku di masanya. Menggugat banyak hal yang menggelisahkan jiwanya. Mari kenali Kartini lebih dalam.

Hidup Singkat Kartini

1879

Tepatnya pada 21 April, Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah. Karena berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan. Ia memperoleh gelar Raden Adjeng (R.A) di depan namanya. Kemudian berganti menjadi Raden Ayu (R.A) setelah menikah.

1885

Kartini berusia 6 tahun ketika memasuki Europese Lagere School (ELS) yang merupakan sekolahformal diperuntukan bagi anak-anak keturunan Belanda, Eropa, peranakan Belanda, juga dibuka bagi anak-anak bangsawan bumiputera.

1891

Usia 12 tahun, Kartini lulus dari ELS, namun tidak melanjutkan sekolah ke tingkat atas karena harus dipingit. Sebagaimana kebiasaan atau adat istiadat yang berlaku saat itu. Selama masa pingitan, Kartini banyak membaca, dan merenung. Bacaan Max Havelaar karya Multatuli menjadi favoritnya.

1895

Usia 16 tahun, Kartini menulis sebuah artikel berjudul Het Huwelijk bij de Kodja (Perkawinan Itu di Koja) yang diterbitkan dengan nama ayahnya pada 1898 di sebuah jurnal ilmiah. Selanjutnya, tulisan-tulisan yang terpublikasi di beri nama pena ‘Tiga Saudara’.

1898

Pingitan tiga serangkai (Kartini, Kardinah dan Rukmini) 

1899

Memasang iklan mencari teman pena di jurnal De Hollandsche Lelie. Dari sini ia berkenalan dengan Stella, aktivis feminis asal Belanda.

1900

Gagasan juga cita-cita Kartini di dunia pendidikan membawanya mengenal JH Abendanon; Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Ia pun mulai mengenal van Kol, anggota parlemen Belanda.

1903

Kartini mendapat beasiswa dari Pemerintah Kerajaan Belanda untuk kuliah. Namun ia menyarankan agar uang tersebut dialihkan untuk pendidikan Agus Salim; putra bangsa yang terkenal karena kecerdasannya yang luar biasa, berasal dari Sumatera (kelak menjadi Menteri Luar Negeri Kabinet II).
Tepatnya 12 November, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Adipati Djodjodiningrat yang sudah memiliki tiga istri. Hal ini bertentangan dengan prinsip Kartini yang menolak poligami, namun atas dasar sangat menyayangi sang ayah, akhirnya Kartini mengiyakan.

1904

Kartini membuka sekolah di rumah Bupati Rembang bernama Sekolah Gadis untuk mendidik anak perempuan bumiputera. Kartini dibantu oleh Kardinah dan Roekmini dalam pengajaran. 
Pada 13 September Kartini melahirkan anak pertamanya, bernama Soesalit Djojoadiningrat. Tak lama, tepatnya pada 17 September, Kartini meninggal dunia karena pendarahan. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.

 

 

Komentar